SULUHNEWS.ID, KOTA TANGERANG-Larangan dari pemerintah pusat, dilarang “Mudik Lebaran” bilamana akan mudik lebaran harus mengikuti persyaratan.
Menurut Iros Rosmiati salah satu guru TK diwilayah Pondok Bahar Kecamatan Karang Tengah Kota Tangerang, kelahiran Tasik mengatakan, “Saya mendengar jeritan para hati supir,” tutur Iros.
Lanjutnya dia menerangkan jeritan hati supir seperti ini, Kami para sopir angkutan memohon kepada Bapak Gurbenur, bapak Walikota maupun bapak/ibu Bupati.
Dengan menutup pintu keluar masuk provinsi, secara tidak langsung membunuh mata pencaharian kami.
Jangan biarkan anak anak kami menangis pilu di saat anak-anak kalian tertawa gembira.
Jangan biarkan kami kelaparan, disaat kalian terlelap tidur karena kekenyangan.
Karena anak istri berikut kredit mobil kami, tidak di tanggung oleh negara.
Kenapa harus kami yg di korbankan, karena ketakutan kalian yang tidak kami takuti.
Yang kami takuti apabila anak dan istri kami mati kelaparan, Karena tidak dapat makan… siapakah yang bertanggung jawab?.
Padahal Allah menyuruh kami tetap berusaha dan bertanggung jawab, kepada anak dan istri kami. Itu yang kami pertanggung jawabkan di akhirat nanti.
Kenapa kami selalu di hadapkan dengan aparat hukum, di bentak di hardikĀ seakan kami ini teroris. Padahal kami ini adalah pejuang dan pahlawan bagi keluarga kecil kami.
Di saat kalian berbagi THR kami hanya bisa berkata, “Apakah esok hari anak-anak kami dapat makan”.
Apakah kalian pernah merasakan di saat semua orang tidur nyenyak, ada seorang sopir tetap terbangun dan bekerja menafkahi keluarganya. Demi memberikan kehidupan yang layak untuk anak dan istrinya.
Apakah ada cara lain yang bijak dengan tidak membunuh, mata pencaharian kami.. berilah aturan yang adil buat kami, semoga dapat hidayah.
Wassalam.
Curahan hati kami pengemudi angkutan umum dan wisata .
Itulah jeritan para supir yang berada diterminal,Kamis (29/4/21 ) kata Iros kepada Suluh melalui tulisan.(her)







