SULUHNEWS.ID, BOGOR – Pemerintah memposisikan program Sekolah Rakyat sebagai instrumen utama negara dalam memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya menyasar anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, tetapi juga diarahkan sebagai strategi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan, keberhasilan Sekolah Rakyat membutuhkan dukungan luas, termasuk peran insan pers dalam menyampaikan informasi yang utuh dan berimbang kepada masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 di Pusdiklat Bela Negara Kementerian Pertahanan, Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/1/2026).
“Ini yang perlu dikabarkan oleh PWI ke seluruh rakyat Indonesia, bahwa Presiden untuk memutuskan kemiskinan sedang membangun Sekolah Rakyat permanen,” ujar Agus Jabo.
Saat ini, sebanyak 166 Sekolah Rakyat rintisan telah berjalan dan menampung 15.594 siswa. Secara paralel, pemerintah mulai membangun Sekolah Rakyat permanen di berbagai daerah. Dari rencana awal 104 titik, jumlah pembangunan terus ditingkatkan sesuai arahan Presiden.
“Sekarang ini sedang proses pembangunan Sekolah Rakyat permanen di 104 titik, tapi Pak Presiden mengatakan tahun ini harus 200 titik,” kata Agus Jabo.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat permanen dibangun di atas lahan yang disiapkan pemerintah daerah dengan luas minimal 6,8 hektare, agar mampu menampung fasilitas pendidikan terpadu seperti ruang kelas, asrama, dapur, tempat makan, hingga sarana ibadah.
“Ada yang kemudian 10 hektare, 9 hektare, tapi minimal supaya kemudian Sekolah Rakyat itu bisa, ada kelas, ada asrama, ada dapur, ada tempat makan, ada tempat ibadah, dan lain-lain, minimal 6,8 hektare,” tuturnya.
Lebih lanjut, Agus Jabo menguraikan tiga sasaran utama pendidikan di Sekolah Rakyat. Pertama, membentuk siswa yang cerdas secara akademik meski berasal dari keluarga kurang mampu.
“Walaupun berasal dari keluarga miskin, Pak Presiden ingin mereka menjadi anak-anak yang pintar,” katanya.
Kedua, melalui sistem pendidikan berasrama, siswa diarahkan memiliki karakter kuat, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta berjiwa kebangsaan. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai fondasi utama, tidak semata mengejar capaian akademik.
Ketiga, lulusan Sekolah Rakyat dipersiapkan memiliki keterampilan praktis sebagai bekal kemandirian di masa depan.
“Yang ketiga apa? selain cerdas dan berkarakter, punya sains, punya rasa nasional semua yang kuat, mereka juga harus terampil,” ujarnya.
Menutup paparannya, Agus Jabo kembali menekankan pentingnya dukungan media dalam mempercepat pemahaman publik terhadap kebijakan strategis pemerintah.
“Karena Pak Presiden ingin program-program prioritas itu secepat-cepatnya bisa dinikmati oleh rakyat, Presiden selalu perintahkan itu,” pungkasnya.
(red)







