SULUHNEWS.ID, JAKARTA BARAT – Bayangkan sebuah dunia di mana bayangan bisa bercerita. Di mana tokoh-tokoh legenda hidup dari gerakan tangan seorang dalang. Itulah dunia wayang, seni yang bukan hanya hiburan, tapi juga filosofi dan identitas budaya bangsa.
Semua itu bisa ditemukan di Museum Wayang, sebuah bangunan bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta. Namun siapa sangka, sebelum jadi rumah bagi ribuan koleksi wayang, gedung ini dulunya adalah sebuah gereja Belanda bernama De Oude Hollandsche Kerk, berdiri sejak 1640. Gereja tersebut sempat direnovasi pada 1732–1733, lalu hancur akibat gempa pada 1808.
Bangunan yang kita kenal sekarang dibangun kembali pada 1912 dengan arsitektur khas Belanda. Perjalanannya panjang: sempat menjadi kantor perusahaan, kemudian diresmikan sebagai Museum Batavia Lama pada 1939, hingga akhirnya Gubernur Ali Sadikin meresmikannya sebagai Museum Wayang pada 13 Agustus 1975.
Sejak saat itu, museum ini menyimpan lebih dari 6.000 koleksi: wayang kulit, wayang golek, wayang beber, topeng, boneka dari mancanegara, hingga gamelan.
“Budaya asing memang sudah lama masuk ke Nusantara. Tapi kita bisa menyerap yang baik, tanpa meninggalkan jati diri bangsa,” tutur Ansor, pemandu museum.
Kini, Museum Wayang tampil dengan wajah baru. Setelah renovasi besar, awal 2025 museum meluncurkan kampanye #MuseumWayangWajahBaru. Tak hanya menampilkan koleksi secara fisik, pengunjung bisa menikmati wayang lewat animasi, layar digital interaktif, hingga multimedia yang membuat suasana lebih hidup.
Bagi generasi muda, teknologi ini membuat pengalaman berkunjung jadi lebih seru. “Informasinya lengkap banget, dari sejarah sampai karakter wayang berbagai negara. Karena tampilannya digital, aku jadi lebih paham dan nggak bosan,” ujar Tia, seorang pengunjung.
Selain pameran tetap, museum ini juga sering menggelar pertunjukan wayang, workshop pembuatan wayang, festival budaya, hingga acara komunitas seni. Semua itu menjadikan museum bukan sekadar ruang pameran, tapi juga tempat interaksi budaya.
Dari sebuah gereja abad ke-17 hingga pusat budaya berteknologi, Museum Wayang membuktikan, bahwa tradisi bisa terus beradaptasi. Wayang bukan hanya benda mati, tapi kisah hidup yang akan selalu menemukan cara untuk bertahan.(m3rini)







