Dari Taman Makam Pahlawan Taruna Kota Tangerang, Pak Jary Serukan Pentingnya Sejarah di Era GEN Z.

Dari Taman Makam Pahlawan Taruna Kota Tangerang, Pak Jary Serukan Pentingnya Sejarah di Era GEN Z.
banner 468x60

SULUHNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Pak Jary (78), penjaga Taman Makam Pahlawan Taruna di Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang menyampaikan harapan tulusnya kepada generasi muda yang paling di kenal masa sekarang adalah Gen Z, agar tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa termasuk para Taruna yang gugur dalam pertempuran melawan tentara Jepang pada tanggal 25 Januari 1946.

“Kalau bukan kita yang menjaga sejarah bangsa kita, siapa lagi? Kita ini hidup karena pengorbanan mereka,” ujar pak Jary.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Gudang Lengkong menjadi saksi bisu pertempuran antara tentara Indonesia dan tentara Jepang pada 25 Januari 1946. Saat itu, pasukan Taruna Akademi Militer (Akmil) Tangerang dikirim untuk mengambil senjata dari Jepang yang akan hengkang dari Indonesia. Misi yang awalnya bersifat damai itu berubah menjadi baku tembak karena terjadi ketidaksepahaman di lapangan.

“Saat itu bukan hanya pasukan Indonesia yang berniat mengambil senjata dari Jepang, tetapi ada pihak lain juga yang memiliki tujuan serupa. Akibatnya, situasi yang awalnya damai berubah menjadi pertempuran,” ucapnya.

Dalam peristiwa itu, 48 orang gugur — terdiri dari 35 Taruna, 10 perwira, dan 3 orang yang tidak diketahui identitasnya. Semua korban dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Taman Makam Taruna Daan Mogot.

“Saat itu, salah satu perwira, Letnan Topo, dikenal tetap bertahan hingga akhir dan turut menguburkan rekan-rekannya yang gugur, meskipun tujuannya adalah pelucutan senjata secara damai, situasi berubah menjadi pertempuran,” ujar Pak Jary.

Pak Jary mulai merawat makam ini sejak masih muda, menggantikan penjaga sebelumnya.

“Karena tidak ada keturunan dari penjaga sebelumnya yang ingin meneruskan, akhirnya saya yang melanjutkan, lagipula, saya sudah terbiasa dan merasa tempat ini telah menjadi bagian dari hidup saya”, jelasnya.

Pak Jary menyebut makam ini masih rutin dikunjungi masyarakat, terutama menjelang peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus. Salah satu tokoh yang pernah datang adalah  Prabowo Subianto dulu ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, yang sekarang mejadi Presiden RI.

“Pamannya Pak Prabowo juga pernah bertempur di sini, yaitu Pak Soejono  Djojohadikoesoemo dan Pak Soebianto Djojohadikoesoemo,” tuturnya.

Meski usianya tak lagi muda, Pak Jary tidak merasa terbebani menjalani tanggung jawab tersebut.

“Kalau sedang hujan memang agak sulit bekerja, tapi itu sudah biasa, dari kecil saya memang sudah berada di sini, mau beristirahat di mana pun, rasanya tetap tenang,” katanya.

Bagi Pak Jary, merawat makam bukan sekadar menjaga tempat, melainkan juga menjaga nilai sejarah agar tidak dilupakan. Ia merasa prihatin melihat generasi sekarang yang mulai jauh dari sejarah bangsanya.

“Dulu kami belajar sejarah secara turun-temurun, bahkan dihafalkan, sekarang, sudah jarang yang benar-benar tahu,” ucapnya.

Pak Jary berharap pelajaran sejarah tetap diajarkan di sekolah dan tidak dihilangkan dari pendidikan generasi muda.

“Kalau bisa, sejarah jangan sampai ditutup, anak-anak sekarang perlu tahu, karena mereka adalah penerus bangsa,” ujarnya.

“Dulu, pekerjaan apa pun kami jalani dengan ikhlas, tanpa memandang besar atau kecilnya peran, yang terpenting adalah dijalani dengan tanggung jawab, mungkin itu bisa menjadi pelajaran juga bagi generasi sekarang,” lanjut pak Jary. (m3rini)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *