SULUHNEWS.ID, JAKARTA PUSAT — Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, berdiri dua bangunan megah yang berdampingan dan menjadi simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Keduanya bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga saksi sejarah bangsa yang beragam dan belajar hidup berdampingan dalam damai.
Awal Mula Masjid Kemerdekaan Indonesia
Masjid Istiqlal, yang berarti kemerdekaan dalam bahasa Arab, dibangun sebagai wujud syukur rakyat Indonesia setelah merdeka. Gagasannya muncul pada masa Presiden Soekarno. Batu pertama diletakkan pada 24 Agustus 1961, dan pembangunan selesai pada 22 Februari 1978.
Masjid ini mampu menampung lebih dari 100 ribu jamaah. Namun yang menarik bukan hanya ukurannya, melainkan kisah tentang siapa yang merancangnya.
Arsitek Non-Muslim di Balik Masjid Nasional
Arsitek Masjid Istiqlal adalah Friedrich Silaban, seorang Kristen Protestan asal Batak. Ia memenangkan sayembara desain nasional dan dipercaya langsung oleh Presiden Soekarno. Soekarno tidak melihat agama Silaban sebagai penghalang, tapi menilai kemampuannya sebagai seorang arsitek.
Silaban merancang Istiqlal dengan gaya modern yang megah namun sederhana. Pilar-pilar tinggi, kubah besar, dan ruang utama tanpa sekat mencerminkan semangat persatuan dan keterbukaan.
Gereja di Sebelahnya: Katedral Santa Maria
Di seberang Masjid Istiqlal berdiri Gereja Katedral Jakarta, dengan nama lengkap Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1901 dan bergaya arsitektur Neo-Gotik khas Eropa. Menara-menara runcingnya terlihat jelas dari halaman Istiqlal.
Dua bangunan besar ini — satu dengan kubah megah, satu dengan menara runcing — berdiri berhadapan di kawasan Lapangan Banteng. Pemandangan itu menyampaikan pesan sederhana: dua keyakinan, dua arsitektur, satu semangat kebersamaan.
Simbol Nyata Toleransi
Kedekatan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan kebetulan. Soekarno sengaja menempatkan keduanya berdampingan untuk menunjukkan bahwa Indonesia berdiri di atas sikap saling menghormati antaragama.
Dari dulu hingga kini, hubungan pengurus kedua tempat ibadah itu tetap hangat. Saat perayaan besar seperti Natal dan Idul Fitri, mereka saling membantu dalam pengaturan parkir dan keamanan. Hal-hal sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa toleransi bisa diwujudkan lewat tindakan kecil.
Terowongan Silaturahmi: Simbol yang Hidup
Pada tahun 2020, dibangun Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan langsung halaman Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Terowongan ini bukan sekadar jalur bawah tanah, tapi simbol persahabatan antarumat beragama. Kehadirannya menunjukkan bahwa batas bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menyatukan.
Dua Arsitektur, Satu Pesan
Kalau kamu berkunjung ke kawasan itu, pemandangannya luar biasa. Di satu sisi berdiri masjid megah dengan kubah besar dan pilar kokoh, di sisi lain gereja dengan menara tinggi bergaya Eropa. Dua gaya arsitektur yang berbeda, namun justru saling melengkapi dan memperindah wajah Jakarta.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan hanya soal agama, tapi juga tentang cara hidup berdampingan. Di sana ada nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan saling menghormati keyakinan.
Banyak tokoh agama dan pemimpin dunia pernah datang ke Istiqlal dan Katedral untuk berbicara soal perdamaian. Kunjungan-kunjungan itu memperlihatkan bahwa Indonesia punya contoh nyata bagaimana perbedaan bisa hidup berdampingan dalam harmoni.
Warisan yang Harus Dijaga
Kedua bangunan ini menjadi pengingat bahwa sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia sudah memilih jalan keberagaman. Soekarno, Friedrich Silaban, para imam, dan semua pihak yang menjaga tempat itu mewariskan pesan yang sama:
“Kita boleh berbeda iman, tapi tetap satu dalam kemanusiaan.”
Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdiri berdampingan bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam semangat kebersamaan. Selama semangat itu dijaga, Indonesia akan selalu punya alasan untuk bangga.(m3rini)







