SULUHNEWS.ID, JAKARTA UTARA — Sebanyak 20 peserta yang merupakan perwakilan sanggar seni dari berbagai sanggar di wilayah Jakarta Utara mengikuti pelatihan tari Betawi bertema Urban Frame, hasil kolaborasi antara Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Kegiatan yang digelar di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Aki Tirem, Jalan Yos Sudarso, Kebon Bawang, Tanjung Priok, ini berlangsung selama lima hari, mulai 20 hingga 24 Oktober 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Kasie Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Puji Saktiyana, mengatakan pelatihan tersebut merupakan wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. “Melalui Urban Frame, para peserta diajak berkreasi dan berinovasi agar tari Betawi bisa terus hidup di tengah perkembangan budaya modern,” ujar Puji.
Ia berharap pelatihan ini mampu mencetak lebih banyak pelaku seni yang memahami sekaligus mencintai budaya Betawi. “Saya mendorong peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian dengan sungguh-sungguh, karena nantinya mereka juga akan tampil dalam pergelaran tari bersama IKJ,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber sekaligus perwakilan dari IKJ, Dewi Hafyanti, mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam menjaga kesinambungan kolaborasi tersebut.“Program pelatihan ini tidak hanya dilakukan di Jakarta Utara, tetapi juga secara bergilir di empat wilayah kota lain di DKI Jakarta,” jelasnya.
Dewi menuturkan, kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan peserta yang telah memiliki dasar menari agar dapat berbagi ilmu kepada rekan-rekannya. “Kebanyakan peserta merupakan pelajar. Saya berharap mereka dapat terus menekuni bidang seni agar tari Betawi tetap lestari,” ujarnya.
Salah satu peserta, Delia (18), mengaku bangga dapat mengikuti pelatihan tanpa dipungut biaya. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk menambah pengalaman dan kemampuan menarinya. “Saya senang sekali bisa ikut. Latihannya seru dan menambah wawasan baru. Kami juga akan tampil di akhir kegiatan untuk menunjukkan hasil latihan kami,” ungkapnya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia pendidikan ini menjadi langkah konkret dalam menjaga eksistensi budaya Betawi. Melalui pelatihan seperti ini, semangat generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisi daerah diharapkan akan terus tumbuh dari waktu ke waktu. (m3safira)







