SULUHNEWS.ID, KOTA TANGERANG – Polres (Kepolisian Resor) sebagai institusi pelayan masyarakat dengan melakukan banyak perubahan terkait fungsi dan dinamika Polres di era digital. Perkembangan teknologi komunikasi, yang menyebabkan terjadinya perubahan budaya atau cara manusia mengkonsumsi media, mau tidak mau juga harus diikuti oleh Polres.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Satuan Hubungan Masyarakat (Humas) Polres menghadapi tantangan besar dalam menjaga citra dan menyampaikan informasi yang akurat kepada publik. Mulai dari hoaks, komentar netizen yang tajam, hingga tekanan untuk memberikan klarifikasi secara cepat menjadi tantangan harian yang tak bisa dihindari.
Era digital membawa perubahan besar dalam cara institusi kepolisian berkomunikasi dengan masyarakat. Bagi Humas Polres, media sosial bukan hanya ruang informasi, tetapi juga medan tempur opini publik yang harus dikelola secara cepat dan akurat. Hal inilah yang sempat dirasakan Bripka Agustino Imam A, yang sebelumnya pernah menjabat di bagian Humas Polres sebelum berpindah ke fungsi lain.
Dalam wawancara, Agustino menyebut bahwa tantangan Humas di era digital sangat kompleks. “Tantangan terbesar itu bukan hanya menjawab, tapi memastikan apa yang kita sampaikan sudah benar dan terverifikasi. Salah sedikit bisa jadi viral, dan pandangan masyrakat pasti jadi negatif terus nantinya” ungkapnya.
Menurutnya, penyebaran informasi di media sosial sering kali mendahului fakta. Oleh karena itu, koordinasi internal jadi solusi utama sebelum Humas mengeluarkan pernyataan resmi. “Kalau ada pertanyaan media atau publik terkait kasus, kita nggak bisa langsung jawab. Harus koordinasi dulu ke satuan terkait, atau ke pimpinan” tambahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Agustino menekankan pentingnya koordinasi internal yang kuat di tubuh kepolisian sebelum memberikan pernyataan resmi ke publik. Selain itu, peningkatan kapasitas petugas Humas melalui pelatihan literasi digital dan manajemen krisis komunikasi menjadi solusi jangka panjang yang perlu diprioritaskan.
Humas juga perlu menghadirkan pendekatan humanis dalam setiap pernyataan resmi. Bukan hanya soal data dan fakta, tetapi juga bagaimana menjelaskan dengan cara yang bisa diterima oleh masyarakat luas.
“Yang penting bukan cuma cepat, tapi juga bisa dipahami masyarakat dan tidak memancing multitafsir” tuturnya. (M3safira)







